Bola
Mentari
kian terik. Para santri Pondok Pesantren Al-Hafidz the Islamic boarding
school akan melaksanakan kegiatan apel pagi. Kegiatan ini rutin setiap
hari. Tidak ada yang boleh untuk tidak mengikuti kecuali yang piket kamar dan kelas. Dari sudut lapangan
terlihat Aysa dan Niar berlarian menuju lapangan. Napas mereka terengah-engah
karena lari beberapa meter. Tapi itu semua demi keselamatan mereka dari hukuman
telat apel pagi.
Aysa
segera menyampaikan informasi yang ia dapat saat sampai di barisan kelasnya. Dengan
ekspresi yang menggembirakan, Aysa mampu menarik seluruh anggota kelasnya untuk
berunding membicarakan koran tersebut. Sampai mereka memiliki forum sendiri di
kala apel berlangsung.
Usai apel, mereka pergi ke kantor depan untuk mengambil koran yang
dimaksud Aysa. Lola berjalan lebih awal dibanding Aysa karena ia yang paling
menggebu untuk mendapatkan koran tersebut. Mereka mengintip di gerbang untuk
mengetahui situasi di depan sana.
“Ada
siapa ?” Tanya Lola pada Aysa yang sedang mengintip melalui celah fiber.
“Ada
banyak ustad. Ada Ustad Reza, Ustad Shaga, ada Ustad Rendy juga. Bakalan susah
ini.” Keluh Aysa dengan muka cemberut.
“Itu
yang pakai baju putih Ustad Luthfi bukan? Mampus! Habis ini pelajaran beliau.”
Keluh Lola yang semakin mencemberutkan wajah Aysa.
Selang
beberapa menit kemudian, Ustad Reza dan Ustad Shaga memasuki lapangan dan
menuju kantor guru. Di sana hanya ada Ustad Rendy yang sedang memilah koran
yang akan diserahkan ke kantor. Dengan cekatan, Aysa dan Lola segera mengambil koran
tersebut. Kemudian disusul oleh Niar dari belakang. Mereka menyimpan beberapa koran
yang memberitakan tentang sportainment. Selesai berhubungan dengan koran,
mereka pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Yang saat itu tepat waktunya
Ustad Luthfi.
***
Aysa
memasuki kelas sambil cengegesan. Tak memedulikan ada guru atau tidak. Dengan
brutal ia menginformasikan berita sportainment itu pada teman-temannya.
Suara keras khasnya membuat Ustaz Luthfi membuka mulut dan memanggil nama Aysa.
Beliau menanyai mereka dengan berbagai soal. Mereka hanya diam dan menunduk.
Berharap persoalan ini segera tuntas.
“Sekarang bilang dulu, “Saya janji tidak akan mengulangi perbuatan ini
lagi.”
Mereka saling betatapan kemudian secara
berbarengan mereka menirukan ucapan Ustad Luthfi. “Saya janji Ustad, saya nggak
akan mengulangi kejadian seperti ini lagi. Tapi kalau saya melanggar, saya akan
janji lagi.” Sontak seluruh kelas tertawa mendengar ucapan mereka. Ustad Luthfi
sendiri juga tertawa mendengar ucapan dari mereka.
“Ya
sudah. Terserah kalian. Silakan duduk. Tapi beneran jangan diulangi ya ?”
“Siap,
Ustad.”
Selama
pelajaran berlangsung, mereka tidak bisa konsen dengan materi pembelajaran.
Beberapa santri juga ada yang tidur. Apalagi yang di belakang. Ada yang membaca
novel tapi sembunyi-sembunyi, ada yang menulis lirik lagu, ada yang serius
dengan pelajaran. Tapi ada juga yang bicara. Itu semua kebiasaan mereka.
Tak
lama berselang, suara ketukan pintu terdengar. Usai itu, terdengar suara knop
pintu dibuka oleh seseorang. Dan sosok itu langsung masuk ke kelas.
“Ustad,
dipanggil sama kepala pondok. Katanya, ada tetangga yang meninggal.” Ujarnya
memberi tahu.
“Oh
iya-iya. Anak-anak, dipelajari ya? Yang sudah kita bahas. Saya ke rumah jenazah
dulu.” Ucap Ustad Luthfi. Seluruh kelas tersenyum bin bangga.
Sepeninggalnya
Ustad Luthfi dari kelas, mereka semua berhamburan. Mereka sibuk memasang koran
yang berisikan tentang berita sportainment itu di mading. Karena mading
mereka hanya berisikan tentang biografi dan sekedar kata-kata yang dibuat dengan
canva.
Kebisingan
mereka hingga lupa untuk waktunya tahfidz Alquran. Sampai Ustazah Fatim
masuk, mereka baru berbondong-bondong keluar untuk menyesuaikan kelas yang
sudah diatur pihak pondok. Lola, Tsabitah, dan Diva sibuk menempel koran itu di
papan mading, sebagian ada yang menulis cerita, ataupun membaca novel. Hal itu
mungkin sudah menjadi kebiasaan santri ketika ada waktu senggang ataupun
jamkos.
Setelah
menyetorkan hafalan, Aysa hendak pergi mencuci. Namun di sisi lain, ia juga
merasakan ngantuk berat. Mencuci di waktu seperti ini dikarenakan jadwal yang
padat dan tidak ada waktu khusus untuk mencuci baju. Memang kalau diatur pasti
mereka akan kesusahan. Terlalu banyak baju yang dicuci, namun kalau tidak
diatur, pasti akan mendesak jadwal yang lain sehingga terkadang mereka izin
untuk tidak mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal.
“Tahfidz ya tahfidz. Waktunya tahfidz dibuat nyuci?!”
Jawab Zuhro tidak terima.
“Bera-“
“Ayo
yang setor yang setor. Yang sama sekali belum setor. Ayo cepat.” Suara Ustadzah
Fatim memotong pembicaraan mereka. Mereka langsung mengaji meski dalam hati
mereka masih ingin melanjutkan pembicaraannya.
***
Bel
istirahat berbunyi. Beberapa santri menetap di kelas karena puasa. Zuhro, Lola,
Aysa, Fara, dan Seyla memanfaatkan waktu yang senggang seperti ini untuk tidur.
Kapan lagi mereka tidur kalau bukan waktu senggang?
Ketika
bel masuk berbunyi, seluruh siswa harap masuk kelas meski gurunya belum datang.
Beberapa santri/siswa baru menginjak kelas setelah beberapa menit yang lalu
mereka keliling di area kantin sekolah. Kesunyian kelas dipecah oleh mereka
dengan suara mereka yang keras dan menggelegar.
“Ukhti..
Wake up, Please. Ada Ustazah.” Sebagian ada yang bangun. Sisanya hanya
membuka mata lalu memejamkan lagi.
Selang
beberapa detik, Ustazah Fida memasuki kelas dan akan mengajar pelajaran
Ekonomi. Dengan cekatan mereka yang sedari tadi hanya membaringkan tubuhnya di
atas lantai, kini mereka bertindak untuk mengambil air wudlu.
“Anak-anak,
minggu depan ulangan harian. Harap kalian belajar sungguh-sungguh.” Nasihat
Ustazah Fida.
“Cepat
sekali. Perasaan baru saja kita menginjak kelas sepuluh.” Sesal Zahirah.
Ketika
Ustazah menerangkan, beberapa siswa ada yang mengantuk, sebagian lagi ada yang sekedar
menggeletakkan kepala di meja. Mereka tidak begitu antusias mengikuti pelajaran
ekonomi. Seusai pelajaran mereka berlangsung, mata pelajaran selanjutnya adalah
pelajaran Shiroh. Yang diajar oleh Ustad Imam. Selagi beliau belum
datang, mereka memanfaatkannya untuk tidur. Tetapi sebagian ada yang
memanfaatkannya untuk belajar, juga ada yang murojaah Alquran.
“Sekarang
hari kamis ya? Nanti Timnas main. U-19 vs Taiwan. Harus nonton.” Lola berbicara
dengan serius. Tanpa memedulikan keadaan yang saat itu sedang sepi.
“Kamu
nonton pakai apa? Televisi? Ya jelas tidak boleh sama Musyrif. Aku nggak mau,
menambah masalah aja. Ini kalau Tsabitah sama Aysa tahu, pasti kultum bercampur
kata-kata puitis yang nggak kamu ketahui, Lol.” Tolak Seyla mentah-mentah.
“Aku
nggak lihat di televisi. Aku lihat di laptop. Kan di kelas sebelah ada
laptop.” Seyla mengangguk. Sedikit berpikir kalau omongan Lola benar.
“Iya
juga ya? Ya sudah. Nanti kita lihat. Tapi, kita harus berkomitmen, agar
siapapun tidak ada yang mengetahui, kita sholat jamaah terus, tahfidz sore
juga harus ikut. Tidak boleh ada yang absen.” Usul Lola.
“Oke
siap.” Jawab Seyla dengan gerakan hormat.
Mereka
bisa berkompromi dalam situasi apapun. Termasuk saat mereka nakal, mungkin
satu-dua santri saja yang mengingatkan. Yang lain pasti sudah masuk ikatan jera
bersama mereka yang sudah terjerumus ke berbagai kesalahan.
***
Malam
hari ba’da sholat isya’, mereka mengikuti kegiatan diba’iyah bersama.
Mereka bisa seperti baik-baik saja. Tidak terlihat ada kesalahan yang mereka
alami. Bahkan, angkatan yang lain memuji bahwa angkatan Aysa sudah mengalami
perubahan yang maksimal. Karena mereka melihat dari cover.
Setelah
pembacaan do’a selesai, mereka bergegas menuju kelas untuk menonton
pertandingan AFC Indonesia vs Taiwan. Karena taqror mereka libur, mereka
bebas melakukan hal yang tak seharusnya diperbolehkan oleh pondok dan sekolah.
Kelas mereka benar-benar seperti warnet free wifi. Satu angkatan dibagi
menjadi dua bagian. Tiga puluh siswa di kelas X-IPA dan tiga puluh lima di
kelas X-IPS. Dengan 4 laptop di masing-masing kelas. Pembentukan seperti ini
dilakukan oleh Akira. Agar kelas mereka tetap bersuhu dingin meski tidak ada AC
seperti di asrama. Sisa santri yang memang menahan diri untuk tidak melihat
pertandingan AFC, hanya belajar dengan keadaan yang hening.
Sebelumnya, Lola dan Seyla sudah menyiapkan bantal, minuman tanpa es,
dan makanan ringan sebagai konsumsi. Hal ini perlu diupayakan agar mereka tidak
terlalu konsen dan spaneng saat
melihat pemain sepakbola tidak sukses mencetak goal.
Tiga
puluh menit berlangsung, teriakan mereka mulai menggebu. Entah karena apa yang
pasti karena pertandingan AFC tersebut.
“Masuk
masuk! Yes! GOAL…!” Pekik Akira si penggemar bola di Pondok Al-Hafidz.
Teriakannya membuat Aysa dan Tsabitah tidak
dapat konsentrasi untuk belajar. Mereka berdua hanya diam dan mencoba untuk
mencari tempat yang lebih nyaman untuk belajar
Pukul
22.30 WIB mereka semua turun. Mereka saling bercerita tentang pertandingan AFC
itu. Aysa dan Tsabitah hanya mendnegarkan karena mereka benar-benar tidak
mengetahui. Sampai di asrama, mereka langsung tidur untuk persiapan besok pagi.
Memulai hari yang baru.
***
Hari
minggu adalah hari penjengukan. Memang tidak semua santri dijenguk ataupun
dijemput. Namun, satu pondok lebih dominan pulang daripada menetap di sana.
Tsabitah, Lola, dan Zuhro ikut ke rumah Agis. Sedangkan Aysa, Niar, Seyla, dan
Fara pulang ke rumah masing-masing.
Hari
semakin berputar, matahari condong dari sebelah barat. Kala itu, santri-santri
berbondong-bondong masuk ke area pondok. Sore itu Aysa tidak bisa kembali ke
pondok. Ia izin kembali besok pagi karena ada acara dadakan di rumahnya.
Seusai
sholat isya’, mereka ke atas untuk mengikuti kegiatan taqror. Guru pembimbing
tidak datang malam itu, sehingga setengah dari mereka tidak memedulikan ulangan
harian besok. Yang harus mereka lakukan adalah melihat pertandingan Timnas U-19
melawan Jepang.
“Kalian itu tahfidz jarang ikut, sholat jamaah juga jarang ikut,
malah sekarang mau buka laptop. Kalian besok itu ada ulangan harian. Andai
kalian mendapat-“
“Sudahlah! Kamu tidak lihat juga tidak masalah. Kalau mau murojaah ya
silakan. Kalau mau belajar juga tidak ada ada yang melarang.” Sahut Zuhro
dengan kenaikan nada satu oktaf. Tsabitah hanya diam dan menggeleng.
“Terserah! Aku hanya mengingatkan.” Timpal Tsabitah yang semakin gereget
dengan kelakuan temannya.
Tiga puluh santri lebih yang menonton pertandingan AFC di laptop. Mereka
tidak menyadari bahwa beberapa kakak kelas melewati kelas X. Kebetulan sekali
mereka membawa kamera untuk mengerjakan tugas dari Ustazah. Kakak kelas yang
melintasi kawasan kelas X, segera mengambil gambar dan entah apa yang akan
dilakukan setelah itu. Kejadian itu, tak satupun dari kelas X ada yang
menyadari.
***
Jam dinding menunjukkan pukul 04.00 WIB. Seluruh santri diharuskan
bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak hanya itu, mereka juga
digiring untuk mengikuti membaca QS. Yasin dan murojaah.
Sebagian santri yang semalam melihat sepakbola, pagi itu tidak bisa
bangun. Berkali-kali Tsabitah membangunkan mereka untuk mengambil air wudlu dan
sholat subuh di masjid. Tetap saja tak satupun dari mereka ada yang bangun.
Ketika iqomah berkumandang, mereka bergegas ke masjid. Saat
membaca QS. Yasin mereka juga banyak yang tidur, bahkan ketika murojaah hanya
sebagian dari mereka yang mengikuti lantunan ayat Alquran. Meski mereka tahu
bahwa tidur akan berfek jera, mereka tetap melakukannya tanpa kesadaran. Karena
kantuk mereka tak dapat tertahankan.
Usai sholat, mereka ke atas untuk mengikuti kegiatan mufrodat.
Karena gurunya masih pulang, mereka dapat melanjutkan tidur mereka di sana. Di
halaman nampak Aysa baru kembali ke pondok.
“Bita.” Suara Aysa mengejutkan Tsabitah yang tengah mengubrak-abrik
lokernya untuk mencari flashdisk yang sejak tempo lalu hilang. Tsabitah
tersenyum karena melihat Aysa membawa sebungkus plastik hitam berisi kebab yang
ia pesan. Ia menerima dengan senyum bangga. Lantas Tsabitah menceritakan pada
Aysa tentang kejadian tadi malam. Aysa hanya tersenyum simpul.
***
Ketika
sinar mentari mulai menyingsing, seluruh siswa dari santri Al-Hafidz akan
melaksanakan upacara. Petugas upacaranya adalah kelas IX. Jadi, kelas X bisa santai untuk mengikuti kegiatan ini. Meski
tidak seserius seperti angkatan yang lain, setidaknya kelas X yang memiliki
julukan trouble maker tidak terdengar bising.
Ketika
Pembina upacara memberi amanat dan sedikit menyangkut-pautkan masalah laptop
ilegal, seluruh kelas X tercekat. Mereka seperti ketakutan saat kata-kata
“Laptop ilegal” selalu diselipkan oleh Pembina. Mimik mereka sangat terlihat
kalau mereka benar-benar salah.
“Saya
minta seluruh kelas X berkumpul di aula setelah upacara selesai.” Ujar Pembina
tanpa basa-basi. Hanya lima santri dari kelas X yang terlihat seperti biasa.
Karena kenyataanya mereka tidak memakai laptop.
Dua
menit setelah upacara selesai, kelas X digiring untuk menuju aula. Ustazah,
Kiai, Guru BK, Kepala Sekolah SMA Al-Hafidz the Islamic boarding school juga
mengikuti dari belakang. Hawa yang terbawa adalah pancaran surya yang mencolok
di atas kepala. Mereka berkeringat dingin. Mereka benar-benar takut untuk
memandang Sang Atasan.
“Apa
yang kalian lakukan semalam dengan 8 laptop?” Tanya Kiai setelah membuka
persidangan itu dengan salam. Tidak ada yang berani menjawab. Mereka menunduk.
“Kalian
itu santri. Beberapa bulan yang lalu, sudah ada kabar bahwa tiga anak dari
kalian ada yang kabur untuk nribun. Sekarang, kalian mengambil 8 laptop dari
kantor hanya untuk menonton pertandingan AFC U-19? Santri macam apa itu? Santri
itu harus tirakat. Menerima apa adanya. Bukan menuruti keinginan. Sudah! Bagi
yang laptopnya di sini, harus dikarantina sampai kalian naik ke kelas XI.”
Keputusan Kiai pada akhirnya.
Lantas
mereka dipersilakan keluar setelah mendengar Kiai meletakkan sasaran amarah
pada mereka. Beberapa dari mereka ada yang menangis, ada yang sekedar tertohok.
***
“Siapa sih yang sengaja memberitahu pihak pondok? Dasar!” Pekik Akira
ketika di ruang kelas. “Sudahlah, kita tidak perlu tahu siapa dia. Yang
penting, sekarang kalian tahu bahwa kelakukan kalian itu salah.” Tegur Aysa
dengan wajah merah. Mereka tetap diam. Mungkin mereka paham bahwa mereka sudah
banyak melakukan kesalahan. Tapi mereka tak sepenuhnya ingin berubah. Cukup
mereka membuktikan bahwa sebenarnya angkatan mereka bukan angkatan trouble
maker seperti yang dikatakan adik kelas, kakak kelas, dan pihak pondok.
Mereka tak sepenuhnya berjuang untuk berubah menjadi lebih baik. Minimal,
mereka dapat menahan nafsu dari keinginan mereka yang akan menjerumuskan pada
masalah. Cukup dengan kejadian seperti ini mereka sudah berada di ujung
masalah. Tidak ingin memiliki masalah lebih dari ini. Sebenarnya mereka hanya
perlu hiburan di pondok. Namun mereka
tidak memiliki sesuatu yang lebih menyenangkan selain laptop. Oleh karena itu
mereka memberanikan diri untuk memakai laptop. Karena mereka masih ingin
menjaga nama baik angkatan, mereka akan membuktikan bahwa ini hanya kenakalan
semata.