Minggu, 04 November 2018

Bola


Bola
            Mentari kian terik. Para santri Pondok Pesantren Al-Hafidz the Islamic boarding school akan melaksanakan kegiatan apel pagi. Kegiatan ini rutin setiap hari. Tidak ada yang boleh untuk tidak mengikuti kecuali yang  piket kamar dan kelas. Dari sudut lapangan terlihat Aysa dan Niar berlarian menuju lapangan. Napas mereka terengah-engah karena lari beberapa meter. Tapi itu semua demi keselamatan mereka dari hukuman telat apel pagi.
            Aysa segera menyampaikan informasi yang ia dapat saat sampai di barisan kelasnya. Dengan ekspresi yang menggembirakan, Aysa mampu menarik seluruh anggota kelasnya untuk berunding membicarakan koran tersebut. Sampai mereka memiliki forum sendiri di kala apel berlangsung.
Usai apel, mereka pergi ke kantor depan untuk mengambil koran yang dimaksud Aysa. Lola berjalan lebih awal dibanding Aysa karena ia yang paling menggebu untuk mendapatkan koran tersebut. Mereka mengintip di gerbang untuk mengetahui situasi di depan sana.
            “Ada siapa ?” Tanya Lola pada Aysa yang sedang mengintip melalui celah fiber.
            “Ada banyak ustad. Ada Ustad Reza, Ustad Shaga, ada Ustad Rendy juga. Bakalan susah ini.” Keluh Aysa dengan muka cemberut.
            “Itu yang pakai baju putih Ustad Luthfi bukan? Mampus! Habis ini pelajaran beliau.” Keluh Lola yang semakin mencemberutkan wajah Aysa.
            Selang beberapa menit kemudian, Ustad Reza dan Ustad Shaga memasuki lapangan dan menuju kantor guru. Di sana hanya ada Ustad Rendy yang sedang memilah koran yang akan diserahkan ke kantor. Dengan cekatan, Aysa dan Lola segera mengambil koran tersebut. Kemudian disusul oleh Niar dari belakang. Mereka menyimpan beberapa koran yang memberitakan tentang sportainment. Selesai berhubungan dengan koran, mereka pergi ke kelas untuk mengikuti pelajaran. Yang saat itu tepat waktunya Ustad Luthfi.
***
            Aysa memasuki kelas sambil cengegesan. Tak memedulikan ada guru atau tidak. Dengan brutal ia menginformasikan berita sportainment itu pada teman-temannya. Suara keras khasnya membuat Ustaz Luthfi membuka mulut dan memanggil nama Aysa. Beliau menanyai mereka dengan berbagai soal. Mereka hanya diam dan menunduk. Berharap persoalan ini segera tuntas.
“Sekarang bilang dulu, “Saya janji tidak akan mengulangi perbuatan ini lagi.”
Mereka saling betatapan kemudian secara berbarengan mereka menirukan ucapan Ustad Luthfi. “Saya janji Ustad, saya nggak akan mengulangi kejadian seperti ini lagi. Tapi kalau saya melanggar, saya akan janji lagi.” Sontak seluruh kelas tertawa mendengar ucapan mereka. Ustad Luthfi sendiri juga tertawa mendengar ucapan dari mereka.
            “Ya sudah. Terserah kalian. Silakan duduk. Tapi beneran jangan diulangi ya ?”
            “Siap, Ustad.”
            Selama pelajaran berlangsung, mereka tidak bisa konsen dengan materi pembelajaran. Beberapa santri juga ada yang tidur. Apalagi yang di belakang. Ada yang membaca novel tapi sembunyi-sembunyi, ada yang menulis lirik lagu, ada yang serius dengan pelajaran. Tapi ada juga yang bicara. Itu semua kebiasaan mereka.
            Tak lama berselang, suara ketukan pintu terdengar. Usai itu, terdengar suara knop pintu dibuka oleh seseorang. Dan sosok itu langsung masuk ke kelas.
            “Ustad, dipanggil sama kepala pondok. Katanya, ada tetangga yang meninggal.” Ujarnya memberi tahu.
            “Oh iya-iya. Anak-anak, dipelajari ya? Yang sudah kita bahas. Saya ke rumah jenazah dulu.” Ucap Ustad Luthfi. Seluruh kelas tersenyum bin bangga.
            Sepeninggalnya Ustad Luthfi dari kelas, mereka semua berhamburan. Mereka sibuk memasang koran yang berisikan tentang berita sportainment itu di mading. Karena mading mereka hanya berisikan tentang biografi dan sekedar kata-kata yang dibuat dengan canva.
            Kebisingan mereka hingga lupa untuk waktunya tahfidz Alquran. Sampai Ustazah Fatim masuk, mereka baru berbondong-bondong keluar untuk menyesuaikan kelas yang sudah diatur pihak pondok. Lola, Tsabitah, dan Diva sibuk menempel koran itu di papan mading, sebagian ada yang menulis cerita, ataupun membaca novel. Hal itu mungkin sudah menjadi kebiasaan santri ketika ada waktu senggang ataupun jamkos.
            Setelah menyetorkan hafalan, Aysa hendak pergi mencuci. Namun di sisi lain, ia juga merasakan ngantuk berat. Mencuci di waktu seperti ini dikarenakan jadwal yang padat dan tidak ada waktu khusus untuk mencuci baju. Memang kalau diatur pasti mereka akan kesusahan. Terlalu banyak baju yang dicuci, namun kalau tidak diatur, pasti akan mendesak jadwal yang lain sehingga terkadang mereka izin untuk tidak mengikuti kegiatan yang sudah terjadwal.
Tahfidz ya tahfidz. Waktunya tahfidz dibuat nyuci?!” Jawab Zuhro tidak terima.
            “Bera-“
            “Ayo yang setor yang setor. Yang sama sekali belum setor. Ayo cepat.” Suara Ustadzah Fatim memotong pembicaraan mereka. Mereka langsung mengaji meski dalam hati mereka masih ingin melanjutkan pembicaraannya.
***
            Bel istirahat berbunyi. Beberapa santri menetap di kelas karena puasa. Zuhro, Lola, Aysa, Fara, dan Seyla memanfaatkan waktu yang senggang seperti ini untuk tidur. Kapan lagi mereka tidur kalau bukan waktu senggang?
            Ketika bel masuk berbunyi, seluruh siswa harap masuk kelas meski gurunya belum datang. Beberapa santri/siswa baru menginjak kelas setelah beberapa menit yang lalu mereka keliling di area kantin sekolah. Kesunyian kelas dipecah oleh mereka dengan suara mereka yang keras dan menggelegar.
            Ukhti.. Wake up, Please. Ada Ustazah.” Sebagian ada yang bangun. Sisanya hanya membuka mata lalu memejamkan lagi.
            Selang beberapa detik, Ustazah Fida memasuki kelas dan akan mengajar pelajaran Ekonomi. Dengan cekatan mereka yang sedari tadi hanya membaringkan tubuhnya di atas lantai, kini mereka bertindak untuk mengambil air wudlu.
            “Anak-anak, minggu depan ulangan harian. Harap kalian belajar sungguh-sungguh.” Nasihat Ustazah Fida.
            “Cepat sekali. Perasaan baru saja kita menginjak kelas sepuluh.” Sesal Zahirah.
            Ketika Ustazah menerangkan, beberapa siswa ada yang mengantuk, sebagian lagi ada yang sekedar menggeletakkan kepala di meja. Mereka tidak begitu antusias mengikuti pelajaran ekonomi. Seusai pelajaran mereka berlangsung, mata pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Shiroh. Yang diajar oleh Ustad Imam. Selagi beliau belum datang, mereka memanfaatkannya untuk tidur. Tetapi sebagian ada yang memanfaatkannya untuk belajar, juga ada yang murojaah Alquran.
            “Sekarang hari kamis ya? Nanti Timnas main. U-19 vs Taiwan. Harus nonton.” Lola berbicara dengan serius. Tanpa memedulikan keadaan yang saat itu sedang sepi.
            “Kamu nonton pakai apa? Televisi? Ya jelas tidak boleh sama Musyrif. Aku nggak mau, menambah masalah aja. Ini kalau Tsabitah sama Aysa tahu, pasti kultum bercampur kata-kata puitis yang nggak kamu ketahui, Lol.” Tolak Seyla mentah-mentah.
            “Aku nggak lihat di televisi. Aku lihat di laptop. Kan di kelas sebelah ada laptop.” Seyla mengangguk. Sedikit berpikir kalau omongan Lola benar.
            “Iya juga ya? Ya sudah. Nanti kita lihat. Tapi, kita harus berkomitmen, agar siapapun tidak ada yang mengetahui, kita sholat jamaah terus, tahfidz sore juga harus ikut. Tidak boleh ada yang absen.” Usul Lola.
            “Oke siap.” Jawab Seyla dengan gerakan hormat.
            Mereka bisa berkompromi dalam situasi apapun. Termasuk saat mereka nakal, mungkin satu-dua santri saja yang mengingatkan. Yang lain pasti sudah masuk ikatan jera bersama mereka yang sudah terjerumus ke berbagai kesalahan.
***
            Malam hari ba’da sholat isya’, mereka mengikuti kegiatan diba’iyah bersama. Mereka bisa seperti baik-baik saja. Tidak terlihat ada kesalahan yang mereka alami. Bahkan, angkatan yang lain memuji bahwa angkatan Aysa sudah mengalami perubahan yang maksimal. Karena mereka melihat dari cover.
            Setelah pembacaan do’a selesai, mereka bergegas menuju kelas untuk menonton pertandingan AFC Indonesia vs Taiwan. Karena taqror mereka libur, mereka bebas melakukan hal yang tak seharusnya diperbolehkan oleh pondok dan sekolah. Kelas mereka benar-benar seperti warnet free wifi. Satu angkatan dibagi menjadi dua bagian. Tiga puluh siswa di kelas X-IPA dan tiga puluh lima di kelas X-IPS. Dengan 4 laptop di masing-masing kelas. Pembentukan seperti ini dilakukan oleh Akira. Agar kelas mereka tetap bersuhu dingin meski tidak ada AC seperti di asrama. Sisa santri yang memang menahan diri untuk tidak melihat pertandingan AFC, hanya belajar dengan keadaan yang hening.
Sebelumnya, Lola dan Seyla sudah menyiapkan bantal, minuman tanpa es, dan makanan ringan sebagai konsumsi. Hal ini perlu diupayakan agar mereka tidak terlalu konsen dan  spaneng saat melihat pemain sepakbola tidak sukses mencetak goal.
            Tiga puluh menit berlangsung, teriakan mereka mulai menggebu. Entah karena apa yang pasti karena pertandingan AFC tersebut.
            “Masuk masuk! Yes! GOAL…!” Pekik Akira si penggemar bola di Pondok Al-Hafidz.
Teriakannya membuat Aysa dan Tsabitah tidak dapat konsentrasi untuk belajar. Mereka berdua hanya diam dan mencoba untuk mencari tempat yang lebih nyaman untuk belajar
            Pukul 22.30 WIB mereka semua turun. Mereka saling bercerita tentang pertandingan AFC itu. Aysa dan Tsabitah hanya mendnegarkan karena mereka benar-benar tidak mengetahui. Sampai di asrama, mereka langsung tidur untuk persiapan besok pagi. Memulai hari yang baru.
***
            Hari minggu adalah hari penjengukan. Memang tidak semua santri dijenguk ataupun dijemput. Namun, satu pondok lebih dominan pulang daripada menetap di sana. Tsabitah, Lola, dan Zuhro ikut ke rumah Agis. Sedangkan Aysa, Niar, Seyla, dan Fara pulang ke rumah masing-masing.
            Hari semakin berputar, matahari condong dari sebelah barat. Kala itu, santri-santri berbondong-bondong masuk ke area pondok. Sore itu Aysa tidak bisa kembali ke pondok. Ia izin kembali besok pagi karena ada acara dadakan di rumahnya.
            Seusai sholat isya’, mereka ke atas untuk mengikuti kegiatan taqror. Guru pembimbing tidak datang malam itu, sehingga setengah dari mereka tidak memedulikan ulangan harian besok. Yang harus mereka lakukan adalah melihat pertandingan Timnas U-19 melawan Jepang.
“Kalian itu tahfidz jarang ikut, sholat jamaah juga jarang ikut, malah sekarang mau buka laptop. Kalian besok itu ada ulangan harian. Andai kalian mendapat-“
“Sudahlah! Kamu tidak lihat juga tidak masalah. Kalau mau murojaah ya silakan. Kalau mau belajar juga tidak ada ada yang melarang.” Sahut Zuhro dengan kenaikan nada satu oktaf. Tsabitah hanya diam dan menggeleng.
“Terserah! Aku hanya mengingatkan.” Timpal Tsabitah yang semakin gereget dengan kelakuan temannya.
Tiga puluh santri lebih yang menonton pertandingan AFC di laptop. Mereka tidak menyadari bahwa beberapa kakak kelas melewati kelas X. Kebetulan sekali mereka membawa kamera untuk mengerjakan tugas dari Ustazah. Kakak kelas yang melintasi kawasan kelas X, segera mengambil gambar dan entah apa yang akan dilakukan setelah itu. Kejadian itu, tak satupun dari kelas X ada yang menyadari.  
***
Jam dinding menunjukkan pukul 04.00 WIB. Seluruh santri diharuskan bangun untuk menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak hanya itu, mereka juga digiring untuk mengikuti membaca QS. Yasin dan murojaah.
Sebagian santri yang semalam melihat sepakbola, pagi itu tidak bisa bangun. Berkali-kali Tsabitah membangunkan mereka untuk mengambil air wudlu dan sholat subuh di masjid. Tetap saja tak satupun dari mereka ada yang bangun.
Ketika iqomah berkumandang, mereka bergegas ke masjid. Saat membaca QS. Yasin mereka juga banyak yang tidur, bahkan ketika murojaah hanya sebagian dari mereka yang mengikuti lantunan ayat Alquran. Meski mereka tahu bahwa tidur akan berfek jera, mereka tetap melakukannya tanpa kesadaran. Karena kantuk mereka tak dapat tertahankan.
Usai sholat, mereka ke atas untuk mengikuti kegiatan mufrodat. Karena gurunya masih pulang, mereka dapat melanjutkan tidur mereka di sana. Di halaman nampak Aysa baru kembali ke pondok.
“Bita.” Suara Aysa mengejutkan Tsabitah yang tengah mengubrak-abrik lokernya untuk mencari flashdisk yang sejak tempo lalu hilang. Tsabitah tersenyum karena melihat Aysa membawa sebungkus plastik hitam berisi kebab yang ia pesan. Ia menerima dengan senyum bangga. Lantas Tsabitah menceritakan pada Aysa tentang kejadian tadi malam. Aysa hanya tersenyum simpul.
***
            Ketika sinar mentari mulai menyingsing, seluruh siswa dari santri Al-Hafidz akan melaksanakan upacara. Petugas upacaranya adalah kelas IX. Jadi, kelas X bisa  santai untuk mengikuti kegiatan ini. Meski tidak seserius seperti angkatan yang lain, setidaknya kelas X yang memiliki julukan trouble maker tidak terdengar bising.
            Ketika Pembina upacara memberi amanat dan sedikit menyangkut-pautkan masalah laptop ilegal, seluruh kelas X tercekat. Mereka seperti ketakutan saat kata-kata “Laptop ilegal” selalu diselipkan oleh Pembina. Mimik mereka sangat terlihat kalau mereka benar-benar salah.
            “Saya minta seluruh kelas X berkumpul di aula setelah upacara selesai.” Ujar Pembina tanpa basa-basi. Hanya lima santri dari kelas X yang terlihat seperti biasa. Karena kenyataanya mereka tidak memakai laptop.
            Dua menit setelah upacara selesai, kelas X digiring untuk menuju aula. Ustazah, Kiai, Guru BK, Kepala Sekolah SMA Al-Hafidz the Islamic boarding school juga mengikuti dari belakang. Hawa yang terbawa adalah pancaran surya yang mencolok di atas kepala. Mereka berkeringat dingin. Mereka benar-benar takut untuk memandang Sang Atasan.
            “Apa yang kalian lakukan semalam dengan 8 laptop?” Tanya Kiai setelah membuka persidangan itu dengan salam. Tidak ada yang berani menjawab. Mereka menunduk.
            “Kalian itu santri. Beberapa bulan yang lalu, sudah ada kabar bahwa tiga anak dari kalian ada yang kabur untuk nribun. Sekarang, kalian mengambil 8 laptop dari kantor hanya untuk menonton pertandingan AFC U-19? Santri macam apa itu? Santri itu harus tirakat. Menerima apa adanya. Bukan menuruti keinginan. Sudah! Bagi yang laptopnya di sini, harus dikarantina sampai kalian naik ke kelas XI.” Keputusan Kiai pada akhirnya.
            Lantas mereka dipersilakan keluar setelah mendengar Kiai meletakkan sasaran amarah pada mereka. Beberapa dari mereka ada yang menangis, ada yang sekedar tertohok.
***
“Siapa sih yang sengaja memberitahu pihak pondok? Dasar!” Pekik Akira ketika di ruang kelas. “Sudahlah, kita tidak perlu tahu siapa dia. Yang penting, sekarang kalian tahu bahwa kelakukan kalian itu salah.” Tegur Aysa dengan wajah merah. Mereka tetap diam. Mungkin mereka paham bahwa mereka sudah banyak melakukan kesalahan. Tapi mereka tak sepenuhnya ingin berubah. Cukup mereka membuktikan bahwa sebenarnya angkatan mereka bukan angkatan trouble maker seperti yang dikatakan adik kelas, kakak kelas, dan pihak pondok. Mereka tak sepenuhnya berjuang untuk berubah menjadi lebih baik. Minimal, mereka dapat menahan nafsu dari keinginan mereka yang akan menjerumuskan pada masalah. Cukup dengan kejadian seperti ini mereka sudah berada di ujung masalah. Tidak ingin memiliki masalah lebih dari ini. Sebenarnya mereka hanya perlu hiburan di pondok.  Namun mereka tidak memiliki sesuatu yang lebih menyenangkan selain laptop. Oleh karena itu mereka memberanikan diri untuk memakai laptop. Karena mereka masih ingin menjaga nama baik angkatan, mereka akan membuktikan bahwa ini hanya kenakalan semata.